tentang pesantren

oleh: Usman Arrumy

Kata pesantren dilihat dari aspek sejarah,, bisa jadi sebagai sistem pendidikan yang berliteratur tradisional, tapi dengan ketradisionalannya, pesantren justru memiliki banyak arti dan fungsi sebagai sumber penting bagi pendidikan humaniora di seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali di pedesaan dan perkotaan, karena ciri khas pesantren sebagai pusat kreativitas masyarakat.


di banding dengan lembaga-lembaga lain, pesantren memiliki kelebihan mental religius dan moral spiritual, ini bisa dilihat cara memandang santri terhadap kehidupan secara keseluruhan sebagai ibadah, di samping itu, para santri sedikit banyak mampu berinteraksi dengan umat dengan penyesuaian yang telah diterapkan di dalam program pesantren.

oleh karena itu, jika pesantren berharap untuk memberikan partisipasinya dalam membentuk manusia yang utuh tentunya dalam batas-batas syariat, setidaknya perlu merenungkan metoda yang di jarkan di dalamnya, karena metoda di tiap-tiap pesantren itu berbeda, karena dengan metoda pesantren akan menemu identitasnya.

walhasil, pesantren harus mempunyai ciri khas sendiri dan metoda yang sesuai dengan kondisi, ini dilihat dari sisi ensklopedi sejarah, bahwa pesantren tidak harus membuat konsep yang bersifat nasional atau internasional, karena pada hakekatnya, pesantren itu bukan hanya untuk regional, tapi juga untuk membentuk karakter santri yang menyangkut perjuangan,

Adalah sudah sine qua non, jika pesantren di bangun dengan segala pilar-pilarnya, dengan kapasitas pesantren masing-masing, karena kebanyakan pesantren menekankan pada ketrampilan retorika, pendek kata, pesantren secara implisit mengajarkan tentang perindustrian, material, fisik, perekonomian, kedokteran, dll.

Berarti, berangkat dari sini, pesantren mempunyai arti yang multi komplek, penjabarannya sudah mencakup seluruh aspek dalam kehidupan umat, dengan harapan, bahwa alumnus-alumnus di pesantren mana saja dan apa saja, bukan hanya di MIFTAHUL ULUM (jogoloyo demak), bagaimana setelahnya mengkaji kitab di pesantren bisa mengembangkan ilmunya, bermanfaat bagi umat masyarakat bangsa dan negara, lebih lebih kalau sudah hidup di tengah-tengah masyarakat, memikirkan tentang bagaimana metoda yang sesuai dengan selera masyarakat, yaitu mengembangkan isi kitab salaf dengan metoda yang bisa di terima oleh masyarakat, bukan sekedar menyampaikan tentang isi-isi kitab klasik, bahkan kontekstualisasi dan aktualisasi dalam menghadapi masa transisi.

bila mana ada santri yang demikian, yaitu yang mampu menjabarkan isinya kitab dengan metoda yang bisa di terima oleh masyarakat itu, namanya santri-santri yang kontekstual, santri-santri yang konteksual adalah para santri yang intelektual, dan para santri yang demikian mau tidak mau harus kondisional dalam menerapkan metoda.

indikator yang paling mencolok ketika kita berbicara tentang transformasi ilmu, khususnya ilmu agama dari berbagai jenisnya yang di format dalam pesantren, adalah kitab salaf, karena kitab salaf merupakan eufemisme yang di letakkan pada literatur tradisional yang sudah berkembang sejak berabad-abad silam, kitab salaf juga merupakan produk ilmiah paling berharga bagi santri yang diajarkan di pesantren,
secara keseluruhan, metoda berfikir yang di gunakan dalam kitab-kitab salaf, kebanyakan merupakan dedukatif yang berlandaskan logika skolastik, di mana implikasi dan pendapat di tarik dari Al-Quran-hadis dan Madzhab empat.

terlepas dari itu semua, pesantren tidak luput dari seberapa besar peran Kyai yang mendapat amanat dari berbagai lapisan masyarakat untuk membimbing ke jalan yang benar, sebenarnya ada banyak variabel untuk mengenali tipologi Kyai, kalau kita lihat dari bidang ilmu yang di kuasainya, akan kita kenal adanya dua tipe: yaitu Ulama' Ilmiah dan Ulama' Risalah, sedang kalau kita lihat dari segi sikapnya cara mengambil keputusan dalam batas-batas hukum syariat, akan kita kenali sebagai Ulama' Modern yang bersinonim dengan Ulama' Tanazul, dan Ulama' Tradisional yang bersinonim dengan Ulama' Taraqqi, kalau jenis mata pencaharian biasa bisa di jadikan indikator pembeda, yaitu Ulama' independent dan dependent.

semua itu tipologi kyai yang berimplikasi, bahwa konsep kyai di masyarakat lebih di tujukan pada figur-figur yang menguasai ilmu agama dan akhlak yang sesuai dengan syariat, karena pada dasarnya para kyai mempunyai pandangan idiologi keagamaan Ahlussunnah yang ditandai oleh ketaatannya pada Allah dan Rosul dan madzhab empat,

seperti abah Dimyati Rois kaliwungu yang menurut Sayyid Abbas Al-Maliki adalah ahlussiasat, lebih mengedepankan idiologi yang rasional, karena beliau sadar sebagai ulama' harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang, dengan pengungkapan yang valid dan realistis beliau mampu membimbing para santrinya, meskipun literatur pesantren Alfadlu yang di asuhnya bercorak klasik dan terkesan primitif, kolot, kampungan dalam berpakaian, akan tetapi keberadaannya dalam menerapkan metoda khusus sudah mampu menembus kapasitas eksternal, dan ini sudah terbukti para santri yang menimba ilmu dari beliau menunjukkan kontekstualisasi dan aktualisasi bertaraf internasional, kiranya tidak berlebihan jika saya pribadi mengatakan bahwa K.H. Dimyati Rois adalah ulama' yang menguasai semua bidang ilmu, dengan memposisikan dirinya sebagai ulama' yang pengkonteksannya di atas rata-rata, di samping itu, beliau mampu memotret keadaan pesantren dengan ilmu yang di kuasainya, sehingga para santrinya merasa terayomi dan terlindungi,

wal hasil, seorang santri harus pandai-pandai memilih pesantren yang akan di singgahinya, yang sekira mampu untuk membimbing dan sesuai dengan keadaannya menurut privacy masing-masing,
dengan harapan mampu menguraikan penjabaran ilmu-ilmu syariat lebih-lebih akhirat, sehingga bisa menjadi santri yang berlandaskan al quran dan hadis, lebih jauh lagi, saya pibadi berharap para santri akan menjadi seseorang yang bukan hanya irasoanal tapi mencapai suprarasional yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan menjadi pembimbing bagi umat.

selebihnya, peran kyai, pesantren dan kitab salaf sangatlah vital bagi para santri yang memperdalam ilmu agama, dan perlu di ingat, santri adalah pemimpin masa depan bagi umat, oleh karena itu, dengan ilmu yang di dapat dari para ulama', santri nantinya akan mendapat tanggung jawab, bagaimanapun keadaan santri tersebut, umat akan menunggu.

2008 Demak.

0 komentar